“Memasuki musim pancaroba tahun ini mengakibatkan cuaca ekstrem terjadi di beberapa wilayah Yogyakarta. Sektor pertanian diminta waspada karena cuaca tidak menentu, kemarau bisa teradi lebih lama”, kata Tony A. Wijaya, S.Si., Kepala Data dan Informasi BMKG DIY.
Curah hujan di beberapa wilayah di Yogyakarta, seperti Sleman, Kulonprogo dan Bantul mengalami penurunan dari angka normal. Rata-rata curah hujan berkisar antara 70%-85% dari 285 mm volume hujan yang terjadi. Ini mengakibatkan kemarau yang lebih panjang, dimulai dari bulan Mei hingga September. Masyarakat yang bekerja diwilayah pertanian diminta untuk menyiapkan segala alternatif apabila kemarau datang lebih cepat bahkan akan berlangsung lebih lama, tambah Tony.
Masyarakat bisa mencegah kekurangan air dengan membuat tadah air seperti embung untuk menampung air hujan, sehingga apabila musim kemarau tiba, masyarakat tidak akan bingung lagi untuk mencari pengairan yang digunakan untuk irigasi. Embung adalah galian tanah yang dilalasi dengan plastik terpal agar air hujan yang ditampung tidak mudah meresap ke tanah. Perubahan cuaca yang ekstrem ini dikarenakan kondisi lingkungan yang berubah dan akibat aktifitas manusia yang mempengaruhi lingkungan. Faktor global warming atau pemanasan global juga menjadi salah satu penyebab ekstremnya cuaca akhir-akhir ini.
Tony juga menjelaskan, saat ini kita tidak bisa menebak kapan hujan akan datang atau kapan panas akan berakhir. Bahkan di masa pancaroba, yang seharusnya bisa ditebak, ditandai dengan terik panas yang menyengat dipagi hingga siang hari dan sore harinya akan terjadi mendung bahkan hujan ringan, sekarang ini menjadi sulit ditebak. Cuaca yang dinamis ini sudah terjadi selama kurang lebih 10 tahun belakangan ini. (Cakra Virajati/PAIJO)
Nama : Cakra Virajati
NIM : 153080155
Kelas : G
(Soft News)
Selasa, 13 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar