Selasa, 25 Mei 2010

Teroris Tak Kenal Lelah


Penggerebekan teroris kembali terjadi, kali ini tim datasemen khusus (Densus) 88 Polri menggerebek tiga lokasi di Cawang (Jakarta), Cikampek (Karawang), dan Sukoharjo (Jawa Tengah). Kali ini pihak kepolisian mendapat informasi bahwa teroris kali ini berencana untuk menembak mati Presiden Indonesia yakni Susilo Bambang Yudhoyono pada saat pelaksaan upacara hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2010 nanti. Untungnya para perilaku terorisme ini sudah berhasil dilumpuhkan.
Dalam penangkapan terakhir, pihak kepolisian mendapat informasi bahwa teroris kali ini lebih memilih beraksi secara lebih “tenang” dari pada seperti biasanya yaitu memakai bom. Teroris lebih memilih menggunakan penembak jitu atau sniper. Informasi ini jelas membuat oihak kepolisian harus lebih waspad, karena jelas sudah bahwa rencana itu kemungkinan besar bias dilaksanakan pada saat upacara kemerdekaan di Istana Merdeka mendatang, karena walaupun telah banyak teroris yang tertangkap dan ditembak mati oleh polisi ataupun Densus, tetap saja jumlah teroris yang ada di Indonesia pastilah tidak sedikit dan tidak mudah untuk menelurusi keberadaan mereka.
Kali ini, pihak dari kepolisian maupun Densus 88 tidak ragu-ragu untuk langsung menembak mati para teroris sewaktu penyergapan. Hal tersebut dirasa memang perlu karena jika ragu-ragu terhadap teroris itu menjadi kelemahan pada kepolisian dan Densus 88, karena teroris tidak pernah ragu-ragu dalam aksinya.

Nama   : Dimaz Arta Prasetya
Kelas   : G
NIM    : 153080175
(Tajuk)

Rabu, 19 Mei 2010

2010 Tahun Biodiversitas Bumi

Dalam sidang pleno ke-83, yang dilakukan oleh Majelis Umum PBB telah mencanangkan dan memutuskan tahun 2010 sebagai Tahun Biodiversitas. Biodiversitas (Bahasa Inggris: biodiversity) adalah suatuistilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu. Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem biologis. Tahun Biodiversitas merupakan sebgai wujud peringatan atas keanekaragaman hayati atau The International Year of Biodiversity yang semakin menuai puncak titik kerusakan. Munculnya alas an pencangan ini timbul manakala muncul ketakutan dan kekhawatiran atas punahnya spesies di dunia, termasuk manusia sendiri.
Kesepakatan bersama menjadikan tahun 2010 sebagai Tahun Biodiversitas (keaneka ragaman hayati) tak lepas dari semakin buruknya kondisi kehidupan alam sekitar. Sebut saja illegal logging, tindakan illegal logging secara besar-besaran dan tak beraturan itu, telah merusak keprawanan hutan. Dan ini sangat rawan menimbulkan berbagai bencana, mulai dari tanaha longsor, banjir serta yang paling mengerikan yakni pemanasan global. Tidak hanya itu, pengeksplotasian alam yang berskala besar telah berimplikasi pada keterancaman semua makhluk di bumi.
Contoh konkretyang sangat tampak sekali akhir-akhir ini adalah terkait masalah pemanasan global. Dalam hal ini dampak yang dihasilkan dari pemanasan global sangatlah bervariasi. Mulai dari perubahan iklim yang ekstrem, dan semuanya itu berawal dari ulah (aktifitas produksi) manusia itu sendiri. Munculnya fenomena semacam ini telah menjadi momok yang senantiasa mengamcam keberlangsungan hidup.
Sadar atau tidak implikasi yang dihasilkan oleh semuanya itu menjadi tanda tanya besar. Pasalnya cuaca ekstrem yang ada merupakan wujud dari produk pemanasan global. Produk global warming berupa becana cuaca buruk telah terjadi hamper di seluruh bagian-bagian Negara belahan dunia.
Mengacu pada Fenomena tersebut, sangat Nampak sekali bahwa kelabilan iklim yang ditunjukan alam (Bumi) menimbulkan keresahan yang amat mendalam. Masalahnya, kondisi itu menyangkut masalah masa depan Bumi dan seluruh kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia.
Jadi salah besar, jika di Tahun Biodiversitas atau tahun keanekaragaman hayati yang dicanangkan oleh PBB ini, kesadaran akan merawat alam masih menjadi hal yang sangat aneh. Sudah lebih dari cukup kita harus melihat bencana demi bencana terus menerus terjadi dan imbasnya selalu merugikan kehidupan semua manusia. Masalah keanekaragaman hayati harus kita tempatkan dalam konteks multidisiplin sehingga dalam melihat isu ini dan mencari solusinya kita perlu mengombinasikan ilmu alam, social, manusia, kebudayaan dan keanekaragamannya.
Nama : Dimaz Arta Prasetya
Kelas: G
NIM : 153080175

(Opini)

Realita Penonton Reality Show Indonesia

     Perkembangan televisi di Indonesia saat ini sudah berkembang sangat pesat. Perkembangan televisi juga ikut mempengaruhi perkembangan berbagai macam konten acara yang disuguhkan kepada pemirsa. Untuk mendapatkan tingginya rating, tidak jarang stasiun televisi kehabisan akal dan mencoba untuk meniru programa stasiun televisi lain yang rating-nya dianggap tinggi, tidak terkecuali programa reality show.
     Pengertian dari reality show itu sendiri adalah genre acara televisi yang menggambarkan adegan yang seakan-akan benar-benar berlangsung tanpa skenario, dengan pemain yang umumnya khalayak umum biasa, bukan pemeran. (http://id.wikipedia.org/wiki/Reality_show). Reality show di Indonesia diramu dengan penambahan-penambahan (rekayasa) tertentu agar alur ceritanya menjadi lebih sendu.
     Menarik sekali menyimak berbagai banyaknya programa reality show yang lalu lalang di layar kaca pemirsa Indonesia. Programa reality show yang saat ini banyak ditonton di tanah air adalah Termehek-Mehek. Alur cerita yang sama terjadi hampir disetiap episode yang ditayangkan. Tayangan seperti inilah yang sangat disenangi oleh penonton di Indonesia. Menurut data dari tulisan Pracoyo Wiryoutomo pada http://www.kompas.com pada Selasa, 6 Januari 2009 tertera, untuk tayangan Termehek-Mehek menembus average rating 7.2, dan share 26.6. Termehek-mehek adalah programa dengan rating dan share tertinggi di TRANS TV, bahkan semua stasiun televisi di Indonesia.
     Sukses program ini seperti biasa, langsung mendapat “sambutan” dari stasiun televisi yang lainnya. Programa sejenis (reality show) yang ditayangkan pun menuai hasil yang bagus. Susilo dalam Jurnal Komunikasi (2005:11) menulis bahwa televisi merupakan anak kandung dari kapitalisme. Televisi akan melahirkan programa yang digemari khalayak, apapun macamnya. Selama tayangan tersebut masih mendatangkan keuntungan melimpah, acara tersebut akan selalu ditayangkan. Namun, bila masyarakat sudah mulai jenuh, tayangan tersebut dengan sendirinya akan ditinggalkan. Begitulah kondisi yang terjadi pada penonton kita.
     Adanya kesamaan cerita dengan kejadian yang pernah atau sedang dialami oleh penonton serta kondisi sosial masyarakat Indonesia yang suka tertawa di atas penderitaan orang lain juga mempengaruhi digandrunginya programa-programa reality show. Inilah yang menjadi magnet mengapa penonton lebih memilih untuk mengganti saluran televisinya hanya untuk menonton reality show yang benar-benar sudah dimengerti oleh mereka bahwa tayangan tersebut hanya rekayasa semata, daripada menonton berita ataupun tayangan yang ber-genre edukasi dan mengandung nilai moral yang tinggi lainnya.
     Di dunia pertelevisian, yang menjadi “Tuhan” adalah rating dan share. Angka rating menempati posisi penting di dunia televisi Indonesia. Bagi mereka, rating menjadi acuan utama. Angka rating menunjukkan berapa banyak suatu program ditonton oleh pemirsa televisi. Suatu program yang mempunyai rating tinggi lebih punya potensi mendapatkan iklan. Sebaliknya, acara yang rating-nya rendah, betapapun bagusnya acara itu, tidak mendapatkan pemasukan melalui iklan. (Jurnal Pemantau Media No. 70/2008 hal 4). Ketika rating sebuah programa tinggi, kontan saja para pemasang iklan memburu tayangan tersebut untuk dijadikan spot iklan. Para pemasang iklan mempertimbangkan, apabila rating programa tersebut tinggi, maka acara tersebut pasti banyak ditonton pemirsa, lalu ketika acara tersebut banyak ditonton, iklan mereka juga pastinya akan banyak ditonton pemirsa dan berharap adanya feedback untuk membeli produk yang diiklankan. Kesuksesan sebuah programa televisi di Indonesia juga bergantung pada banyaknya pemasukan iklan untuk programa yang akan ditayangkan.
     Programa reality show yang sudah ada bahkan mungkin yang nantinya akan ditayangkan dengan konsep yang berbeda baiknya lebih memperlihatkan kebenaran yang sebenar-benarnya, bukannya kebenaran atau realita yang direkayasa dan didramatisir sedemikian rupa seperti yang selama ini kita lihat di layar kaca kita. Bukan juga khayalan-khayalan yang tinggi dan tidak akan bisa dicapai secara realistis. Semoga saja programa-programa reality show yang benar-benar realita semakin banyak karena dari acara tersebut kita mengetahui realita sebenarnya yang terjadi disekitar kita dan media serta masyarakat dapat menjalankan tugas sebagai fungsi pengawasan dan pengingat kepada pihak-pihak tertentu dari sindiran-sindiran halus yang ditayangkan di programa reality show.

Nama : Cakra Virajati
NIM : 153080155
Kelas : G

(Opini)

Sultan Jogja Perempuan??

          

Apa jadinya jika pemimpin Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah perempuan? Pernyataan Sri Sultan Hamengkubowono X akhir pekan lalu tentang kemungkinan penerus tahtanya adalah perempuan memang mengejutkan berbagai kalangan di DIY. Beragam tanggapan pun muncul dari abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hingga masyarakat luas di DIY.
Akhir pekan lalu, Raja Jawa yang diangkat sejak tahun 1989 itu mengatakan bahwa penerus tahtanya sebagai Sultan bisa saja dari perempuan. Memang pada kenyataannya, Sultan HB X tidak mempunyai keturunan laki-laki yang biasanya dalam aturan sebuah kerajaan dipastikan naik menggantikan ayahnya sebagai pemegang tahta. Apabila pernyataan Sultan ini terealisasikan, maka mau tidak mau GKR Pembayun, keturunan Sri Sultan Hamengkubowono IX akan naik tahta menggantikan ayahnya.
Pernyataan orang nomor satu di DIY tersebut menuai beragam komentar dari masyarakat. Mereka yang pro berdasar pada hukum demokrasi bahwa seorang perempuan juga berhak menduduki tahta, sedangkan kalangan yang tidak setuju berpegang pada pakem paugeran bahwa seorang raja adalah Sayidin Panatagama Kalifatullah dan dia adalah laki-laki.
Dalam paugeran Keraton, tahta mahkota harus diduduki oleh seorang laki-laki, bukannya perempuan. Kedudukan Raja keraton yang laki-laki juga sudah disesuaikan dengan prinsip-prinsip agama yang dianut yaitu Islam. Paugeran Keraton menyepakati bahwa Keraton itu adalah seorang Sayidin Panitagama Khalifatullah. Dalam catatan sejarah memang tidak ada seorang khalifah dijabat oleh seorang perempuan. Sementara, di kalangan masyarakat menilai hal tersebut justru akan membawa gejolak berkepanjangan.
Ini merupakan tantangan Keraton yang masih tradisional dan memegang teguh prinsip kebudayaan didalamnya untuk melakukan reformasi seiring dengan modernisasi yang dituntut agar dinamis. Mereka mayoritas berpandangan Keraton dipimpin oleh seorang laki-laki, namun di zaman yang seperti ini, pihak Keraton sendiri haruslah membuka mata bahwa ini adalah zaman modernisasi. Zaman dimana apapun bisa terjadi. Keraton haruslah luwes. Indonesia adalah salah satu negara yang mengagung-agungkan permasalahan gender. Perempuan di Indonesia hampir dikatakan setara dengan laki-laki. Saat ini, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama.
Keraton dipimpin oleh Raja yang perempuan memang tidak masalah. Karena itu, tidak ada lagi perbedaan dalam cara memimpin. Akan tetapi memang perlu dipertimbangkan dari berbagai aspek. Hal itu dikarenakan gender memang tidak bisa dikaitkan dengan suksesi di Keraton. Beberapa aspek diantaranya adalah dari aspek konstruksi sosial dan budaya. Dua aspek tersebut tidak akan bisa lepas begitu saja dari keberadaan Keraton. Kalaupun perempuan tersebut memiliki kemampuan untuk memimpin Keraton, kenapa tidak dia saja yang memimpin. Asalkan masyarakat DIY bisa menerima dan mau dipimpin oleh seorang perempuan.

Toh juga Indonesia adalah negara yang hebat, Presiden saja pernah dijabat oleh seorang perempuan, Gubernur pun demikian, kita tahu di Banten, Ratu Atut menjadi pemimpin daerah disana. Mengapa Sultan di Keraton tidak bisa dijabat seorang perempuan?

Nama: Cakra Virajati
NIM    : 153080155
Kelas  : G

(kolom)

Meraih Sukses setelah 10 Tahun jualan ES Dawet

Bukanlah waktu yang singkat untuk seorang ibu penjual es dawet yang biasa berjualan di depan pasar Beringharjo Yogyakarta. Sartika, Ibu yang mencari nafkah untuk keluarganya di Wonosari punya sedikit cerita untuk PAIJO.

Bermodalkan dana 2,5 juta rupiah, sepuluh tahun yang lalu Sartika memulai usaha berjualan Es Dawet di depan Pasar Beringharjo. Awalnya berjualan di daerah Pasar Beringharjo pada waktu itu bukanlah hal yang mudah, dari mencari tempat untuk berjualan sampai menemukan cara untuk menarik pelanggan. Masih sering terjadi penggusuran oleh pemkot kota Yogyakarta terhadap pedagang-pedagang di sekitar pasar saat itu, bukan sebuah hal yang aneh bila terkadang Sartika harus di kejar-kejar oleh SATPOL PP karena berdagang di daerah pasar. Beruntung sekarang masalah tersebut sudah dapat diatasi dengan membayar uang sewa tempat sebesar 25ribu rupiah tiap bulannya. Barang bawaan berupa meja dan tetek bengek peralatan berjualan pun sekarang dapat di titipkan pada pengelola pasar Beringharjo. Biaya penitipan barang tersebut hanya 500 rupiah per hari, biaya yang sangat membantu para penjual tentunya.

Per harinya, Sartika biasa mengeluarkan modal untuk berjualan paling mahal sebesar 250ribu rupiah. Jika sekiranya sepi mungkin 150ribu saja sudah cukup untuk modal jualan perhari. Banyak faktor yang berpengaruh pada kegiatan berjualan Es dawet, salah satunya faktor cuaca. Jika cuaca sedang terik dan panas, Sartika bisa meraih keuntungan yang besar sebaliknya jika cuaca hujan atau dingin, tidak seberapa pemasukan yang di dapat olehnya.

Dalam tempo 10 tahun berjualan Es dawet, Sartika dapat menyekolahkan ke dua anaknya, anak pertama sekarang sudah hampir lulus dari salah satu Universitas di Yogyakarta sedangkan anak keduanya sedang bersekolah di salah satu SMA Wonosari.

Nama : Dimaz Arta Prasetya
NIM : 153080175
Kelas : G

(Feature News)

Rabu, 12 Mei 2010

Masih Pantaskah Jogja Disebut Kota Pelajar???


Melihat angka hasil UAN SMA/SMK/MA dan SMP/MTs di DIY yang anjlok di tahun ini seperti mencoreng nama baik DIY sebagai Kota Pelajar. Tingkat kelulusan yang sangat rendah di DIY pertanda sebagai kota ini perlu berbenah untuk mengembalikan citra Kota Pelajar tesebut.

Angka ketidaklulusan UAN SMA/MA DIY adalah yang tertinggi di pulau Jawa. Sebanyak 4.263 siswa atau sekitar 23,7% dinyatakan tidak lulus. Di tingkat SMP juga demikian, 10.800 siswa SMP sederajat tidak lulus UAN Utama yang jika dipersentasekan mencapai angka 15,44%. Sungguh sangat miris apabila ini diukir oleh sebuah kota pelajar di Indonesia. Sebenarnya apa sih yang menjadi penyebab angka ketidaklulusan yang sangat tinggi ini? Siapakah yang bersalah dalam peristiwa ini?

Sepertinya semua sekolah di Indonesia termasuk di Jogja sudah menerapkan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dengan sangat baik. Mulai dari KBM regular di jam belajar dan ditambah juga dengan Try Out yang diadakan di masing-masing satuan pendidikan. Namun masih saja angka ketidaklulusan sangat tinggi di Jogja. Para siswa juga sudah mendapatkan tambahan pendidikan di luar sekolah seperti mengikuti bimbingan belajar ataupun les privat.

Penurunan tingat kelulusan ini adalah akibat dari “keras kepala” pemerintah di bidang pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diterapkan sepertinya berbanding sangat kontras dengan keinginan pemerintah. Bagaimana tidak, sekolah saat ini diberikan keleleluasaan untuk mengatur pendidikannya di sekolah masing-masing, namun, penentuan akhir kelulusan dilihat dari UAN. Sangat tidak relevan. Seharusnya, masing-masing di tingkat satuan pendidikanlah yang bisa menentukan apakah siswa itu lulus atau tidak. Bukannya hanya dari hasil UAN.

Sistem pendidikan sekarang hanya dilihat dari hasil akhir yang perolehan siswa ketika mengikuti UAN saja, tapi tidak lagi mempertimbangkan proses panjang para siswa yang mengikuti pendidikan selama tiga tahun tersebut. Pemerataan pendidikan juga menjadi masalah pelik dalam UAN yang diselenggarakan hampir 6 tahun ini. Kemampuan siswa di daerah jelas berbeda dengan yang ada di perkotaan. Input yang masuk ke sekolah unggulan juga berbeda dengan input yang masuk ke sekolah non unggulan. Tentu saja, diakhir masa pendidikannya, sekolah yang inputnya baik, outputnya juga baik.

Tingginya angka ketidaklulusan siswa dalam menghadapi UAN di DIY satu sisi merupakan fakta yang menyesakkan. Disisi lain, keterpurukan tersebut harus menjadi cambuk bagi pengelola pendidikan baik tingkat sekolah maupun pemerintah. Semua unsur tersebut harus bertindak cepat, terutama untuk mengatasi sekolah yang memiliki ketidaklulusan yang tinggi.

            Citra DIY sebagai kota pelajar yang sempat tercoreng akibat banyaknya siswa yang tidak lulus di tingkat SMA dan SMP harus segera dipulihkan. Jangan sampai kota ini kehilangan “Taji-nya” di mata masyarakat Indonesia. Malah mungkin kedepannya, orang tua siswa tidak akan mau lagi menyekolahkan anaknya di kota Gudeg ini apabila kualitas pendidikan di level menengah saja masih bobrok dan tidak dievaluasi untuk masa-masa yang akan datang.


Nama : Cakra Virajati
NIM : 153080155
Kelas : G

(Tajuk)

Rabu, 05 Mei 2010

Kaset Tua di Pasar Tua


“Ke Jakarta Aku... kan kembali.... walau apa yang kan terjadi...”


Ya, sepenggal lirik dari Koes Ploes di era 70-an tersebut masih sangat merdu  terdengar di telinga orang yang lalu lalang orang di keramaian pasar Bringharjo. Berasal dari sebuah lapak yang berada dipinggir trotoar sudut pasar tertua di Jogja tersebut, Zamzani, seorang pedagang kaset tua memutar kaset tua dagangannya, tentunya dengan tape yang sudah usang juga.

Pedagang kaset bekas di Bringharjo itu baru saja membuka lapak barang dagangannya di jalur pedestrian. Lapaknya hanyalah sebuah gerobak berisi tumpukan kaset-kaset lawas penuh dengan debu. Baru saja ia menggelar dagangannya, salah seorang pejalan kaki sudah mendatanginya. Jarum jam menunjukkan waktu pukul 10 siang.

Zamzani yang berdagang kaset sejak tahun 1985 itu pun sumringah. Ia mempersilakan calon pembeli melihat-lihat kaset. “Yang Barat di kanan, kalau yang Indonesia cari di kiri, Mas”, katanya kepada calon pembeli, Adi Mulyadi. Kala itu, Adi berniat mencari kaset God Bless. Lantas, kolektor kaset tua itu pun mengacak-acak tumpukan kaset yang berserakan.

Mencari kaset bekas di lapak kaki lima seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Butuh kerja keras dan kesabaran. Kalau di satu tempat tidak ada, biasanya kolektor bergegas pindah ke tempat lain. Sudut pasar Bringaharjo, Jogjakarta, merupakan salah satu tempat favorit berburu kaset. Di sana ada sekitar tiga lapak yang menyediakan kaset-kaset lawas. Pembelinya tidak hanya orang-orang Jogjakarta dan sekitarnya, tapi juga dari luar Jawa.

Zamzani mengatakan bahwa pelanggannya ada yang datang dari Papua, Manado, dan Bali. Rata-rata mereka adalah wisatawan yang datang ke Jogja. Andai barang yang dicari pelanggannya itu ada, dia pun bisa segera mengirimnya via paket.

Bagi Zamzani, mendapatkan kaset-kaset yang diinginkan pelanggan lumayan sulit. Khususnya album dari musisi Indonesia era 1970-an yang tergolong langka. Sebut saja The Rollies, soundtrack film Badai Pasti Berlalu, Superkid, Dedy Stanzah, atau Giant Step. Sekitar 10 tahun lalu, katanya, album itu tidak banyak dilirik orang. Sekarang, permintaannya malah tinggi. Ia pun mengaku sempat kelabakan. Sampai dia harus memesan ke pelosok daerah.

“Seringnya sih tidak ada”, katanya. Tapi, untung ada saja hal yang tidak diduga. Awal tahun ini, Zamzani didatangi seorang kolektor kaset asal Purwokerto, yang menjual koleksinya. “Selain membeli kaset dari supplier, saya juga sering beli dari kolektor,” ujar Zamzani.

Menurut Zamzani, ada beberapa alasan seorang kolektor rela melepas koleksinya. Ada yang karena alasan ekonomi atau karena pemiliknya sudah meninggal sehingga si ahli waris terpaksa menjualnya. Ia juga sering mendapat suplai kaset dari pemulung yang mendapatkannya dari gudang.

“Sampai saat ini, saya masih punya sekitar 1000-an koleksi kaset lawas dan masih saya rawat, mas” tutupnya kepada Paijo saat mewawancarainya. Hmm... anda berminat dengan kaset tua?? Kalau anda sedang jalan-jalan di sekitar pasar Bringharjo tidak ada salahnya anda mampir untuk memilih penyanyi kesayangan anda di masa sma anda yang penuh kenangan.

Nama : Cakra Virajati
NIM : 153080155
Kelas : G

(feature news)